Setelah 70 Tahun Eksis, Toko Buku Gunung Agung Bakal Menutup Seluruh Tokonya Akhir Tahun Ini

ASAPENA.COM – Kabar duka bagi seluruh pecinta buku di tanah air. Setelah 70 tahun, menjadi tempat ‘surga’ bagi pemburu buku.
Salah satu toko buku terbesar dan melegenda Toko Buku Gunung Agung bakal menutup seluruh tokonya akhir tahun nanti.

Toko buku yang sudah berdiri sejak tahun 1953 itu, akhirnya tumbang setelah menelan banyak kerugian. Yang mana membuat perusahaan sudah tidak bisa bertahan lagi.

Dilansir dari detikcom, Manajemen PT GA Tiga Belas dalam keterangan resminya mengumumkan akhir tahun 2023 pihaknya berencana menutup toko atau outlet yang masih tersisa, ini diambil karena besarnya biaya operasional dan juga kerugian yang terus membengkak.

Pernah sangat berjaya, saat ini Toko Buku Gunung Agung tinggal menyisakan lima toko yang masih eksis. Sebelummya, pihak manajemen juga telah melakukan efisiensi dengan menutup toko yang tersebar di Semarang, Gresik, Magelang, Bekasi, Jakarta, Surabaya, dan juga Bogor.

Pihak manajemen menuturkan, untuk bisa memangkas dan menekan biaya operasional efisiensi bahkan sudah dilakukan sejak 10 tahun yang lalu.

Efek pandemi juga membuat keuangan Gunung Agung semakin babak belur. Sehingga opsi penutupan total ini tidak bisa lagi terhindarkan.

Mirah Sumirat Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (ASPEK), melayangkan tudingan jika Toko Buku Gunung Agung telah melakukan PHK secara sepihak kepada 350 pekerja.

Mirah mengatakan, ia menerima laporan terkait PHK dan permintaan advokasi. Menurutnya PHK itu terjadi sewaktu massal dan semena-mena.

Yang mana laporan tersebut ia nilai bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Manajemen Toko Buku Gunung Agung juga dinilai tidak menjalankan hak dan kewajiban perusahaan sesuai dengan peraturan.

Toko Buku Gunung Agung sendiri didirikan oleh Tjio Wie Tay yang lebih dikenal sebagai Masagung, yang turut mewarnai perjalanan bangsa Indonesia.

Related Post

Awal berdiri Toko Buku Gunung Agung, dinamai dengan Tjio Wie Tay yang mempunyai arti Gunung Besar. Beberapa tahun kemudian, nama itu berganti menjadi Gunung Agung.

Lambat laun, toko buku itu semakin besar. Banyak pesanan yang masuk. Bahkan dari luar Jakarta. Gunung Agung, pernah menggelar pameran buku yang sukses besar pada 8 September 1953, yang akhirnya ditetapkan sebagai tanggal berdirinya Toko Buku Gunung Agung.

Tahun 1954 Masagung bertemu dengan Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno dan juga Bung Hatta. Pertemuan itu menghasilkan beberapa terobosan. Salah satunya adalah kerjasama pemerintah saat itu dengan Masagung untuk mengadakan pameran buku skala nasional.

Bukan hanya di Indonesia pameran itu bahkan sampai ke Singapura. Lalu pada tahun 1963 Toko Buku Gunung Agung akhirnya mempunyai gedung sendiri di Jalan Kwitang, tepat saat Gunung Agung berusia 10 tahun. Momen istimewa itu juga dihadiri langsung oleh Ir. Soekarno.

Salah satu pesan dari Bung Karno saat itu adalah, agar tidak meninggalkan kegiatan penerbitan. Karena dinilai sangat bermanfaat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tahun 1965, Toko Buku Gunung Agung melebarkan invasinya dengan membuka cabang di Tokyo Jepang. Bahkan hingga menggelar pameran buku di Malaysia pada 1970.

Setelah berpulang 24 September 1990, Toko Gunung Agung diteruskan putra sulungnya Ketut Masagung bersama dua adiknya Putra Masagung dan Made Masagung.

Belakangan omzet Toko Buku Gunung Agung semakin menurun. Dengan rencana ditutupnya seluruh toko buku legendaris tentu, sangat disayangkan karena menyimpan banyak kenangan.